Metode Pengajaran Musik: Mengenal Metode Tonika-Do
Mempelajari musik tidak selalu berarti harus langsung
berhadapan dengan notasi balok. Dalam sejarah pendidikan musik, para pendidik
telah lama mencari cara agar peserta didik lebih dahulu memahami bunyi, lalu
menghubungkannya dengan lambang tertulis. Salah satu pendekatan yang lahir dari
pencarian tersebut adalah metode Tonika-Do, yaitu cara mengenalkan nada melalui
hubungan setiap nada dengan nada dasar atau tonika.
Latar Belakang: Mengapa Pengenalan Nada Perlu Dipermudah
Pembaca notasi musik pemula umumnya menghadapi dua kesulitan
sekaligus, yakni mengenali tinggi rendah nada dan memahami lamanya nilai bunyi.
Banoe (2013) menggambarkan persoalan pengenalan nada dan ritme ini sebagai
tantangan nyata dalam pengajaran musik. Notasi balok memuat banyak informasi
dalam satu simbol, sedangkan sistem angka memiliki keterbatasannya sendiri pada
konteks pembelajaran tertentu. Dari situ muncul gagasan untuk membangun
pemahaman bunyi terlebih dahulu sebelum peserta didik dituntut membaca notasi
yang rumit.
Jejak Sejarah: Dari Solmisasi hingga Tonika-Do
Menurut Losert (2011), akar gagasan ini dapat ditelusuri
hingga Guido dari Arezzo, yang pemikirannya melahirkan solmisasi abad
pertengahan. Perkembangan berikutnya adalah metode angka di Prancis dan metode
Tonic Sol-fa di Inggris. Losert menegaskan bahwa Tonika-Do bertumpu langsung
pada Tonic Sol-fa, sementara kelahirannya tidak dapat dilepaskan dari kondisi
sosial dan sejarah para tokoh gerakannya.
Gagasan sistem angka sebagai alternatif notasi balok pernah
dikemukakan oleh Jean-Jacques Rousseau, kemudian dikembangkan oleh sejumlah
pendidik musik Eropa (Banoe, 2013). Dari lingkungan Prancis lahir pula metode
Galin-Paris-Chevé, yang di Indonesia dikenal sebagai metode Chevé. Bullen
(1877) membahas metode ini sebagai dasar pendidikan musik pada masanya. Perlu
dicatat bahwa metode Chevé dan Tonika-Do merupakan dua hal berbeda. Metode
Chevé termasuk dalam rangkaian metode angka yang mendahului, sedangkan Tonika-Do
berkembang di Jerman dengan landasan langsung pada Tonic Sol-fa Inggris.
Tokoh kunci Tonic Sol-fa adalah John Curwen. Zinar (1983)
mencatat bahwa Curwen mengajarkan bernyanyi melalui bunyi nada sebelum siswa
mempelajari notasi, menciptakan isyarat tangan untuk tiap nada tangga nada, dan
menekankan rasa terhadap denyut dasar yang mendasari panjang pendek nada.
Unsur-unsur inilah yang kemudian tampak kembali dalam Tonika-Do.
Konsep Dasar: Nada Dasar sebagai Pusat
Inti Tonika-Do adalah gagasan bahwa setiap nada dipahami
berdasarkan hubungannya dengan tonika. Suku kata do, re, mi, fa, sol, la, dan
si tidak menunjuk frekuensi tertentu. Suku kata itu menunjukkan posisi nada
dalam tangga nada. Dalam tangga nada mayor, do selalu menjadi nada dasar, apa
pun nada yang dipilih sebagai tonikanya. Jika nada dasar berubah, nama suku
kata tetap sama, sedangkan tinggi bunyinya bergeser. Karena itulah sistem ini
disebut solmisasi relatif.
Karpinski (2021) membahas sistem movable-do dari
sudut pandang kognitif. Ia menyoroti bagaimana pendengar menghubungkan tiap
nada dengan pusat tonal dan bagaimana kemampuan mengenali pusat tonal itu
membantu persepsi musik. Pembahasan tersebut menunjukkan dasar ilmiah mengapa
pendekatan relatif layak dipertimbangkan dalam pembelajaran.
Losert (2011) menjelaskan bahwa perangkat Tonika-Do mencakup
suku kata solmisasi, isyarat tangan, bahasa ritme, dan berbagai bentuk notasi
relatif. Seluruhnya disusun dalam sistem pengajaran lima tahap yang bertujuan
menumbuhkan pendengaran batin, yaitu kemampuan membayangkan bunyi tanpa harus
mendengarnya secara langsung.
Nada Absolut dan Nada Relatif
Pendekatan nada absolut menamai nada menurut tinggi bunyi
yang tetap, misalnya C, D, atau E. Pendekatan nada relatif menamai nada menurut
fungsinya terhadap tonika. Satu melodi yang sama dapat dinyanyikan dalam
beberapa tonalitas, tetapi urutan suku katanya tetap, misalnya mi-re-do.
Peserta didik yang memahami pola ini dapat mengenali kemiripan struktur melodi
tanpa terikat pada satu tinggi nada.
Kedua pendekatan tersebut tidak perlu dipertentangkan.
Notasi balok tetap menjadi bahasa tertulis yang luas dipakai dalam dunia musik,
dan penguasaannya penting bagi calon musisi maupun pendidik. Tonika-Do dapat
dipandang sebagai jalur pendamping yang membantu peserta didik memahami bunyi
sebelum atau sambil mengenal notasi baku. Bukti sejarahnya pun menunjukkan
bahwa metode ini tidak selalu bertahan. Losert (2011) mencatat adanya
alasan-alasan mengapa Tonika-Do akhirnya ditinggalkan dalam pengajaran musik,
meskipun repertoar metodenya dinilai masih bermakna hingga kini.
Kemungkinan Penerapan dalam Pembelajaran
Secara pedagogis, prinsip nada relatif dapat dimanfaatkan
dalam beberapa kegiatan. Dalam latihan solfeggio dan membaca melodi, pendidik
dapat menggunakan suku kata solmisasi untuk melatih peserta didik membaca pola
nada. Dalam pembelajaran vokal, isyarat tangan membantu peserta didik merasakan
jarak antarnada ketika bernyanyi. Pemahaman interval dan tangga nada dapat
diperkuat karena setiap nada dikaitkan dengan posisinya terhadap tonika. Dalam
pembelajaran teori musik, pengenalan fungsi nada menjadi pintu masuk menuju
pembahasan harmoni dan tonalitas.
Seluruh penerapan di atas merupakan kemungkinan penggunaan
pedagogis. Tingkat keberhasilannya bergantung pada karakteristik peserta didik,
kompetensi pengajar, dan konteks pembelajaran, sehingga perlu diuji melalui
praktik dan kajian lebih lanjut.
Relevansi bagi Pendidikan Musik Masa Kini
Pemahaman hubungan antarnada tetap relevan bagi sekolah, lembaga kursus, komunitas musik, maupun pembelajar mandiri. Pada kelas kelompok, misalnya, nama suku kata yang seragam memudahkan pendidik menjelaskan fungsi nada tanpa bergantung pada kemampuan peserta didik membaca kunci dan tanda mula yang beragam. Bagi pembelajar mandiri, pendekatan ini memberi cara sederhana untuk melatih telinga. Bagi mahasiswa Seni Musik, pengetahuan tentang Tonika-Do juga memperluas wawasan mengenai ragam metode yang pernah dan masih dapat dimanfaatkan dalam pendidikan musik.
Sumber: Buku Metode Keelas Musik karya Dr. Pono Banoe
